Ini
cerita tentang seorang lelaki.
Lelaki
yang masih sanggup berdiri saat aku berusaha melumpuhkannya.
Lelaki
yang masih sanggup menatapku saat aku berusaha membutakannya.
Lelaki
yang masih sanggup tersenyum saat aku berusaha memakinya.
Lelaki
yang terus menunggu, walau aku tidak datang.
Kini
aku memikirkan lelaki itu. lelaki yang kini selalu ada didalam genggamanku.
Dia
selalu berusaha membantu, menjaga dan mengembangkan senyumku.
Senyumnya
adalah senyumku.
Kini
aku tahu betapa berharganya dia.
Kenapa
baru sekarang aku melihat kearahnya?
Karna
ada orang lain?
Tidak.
Aku tidak bisa menyalahkan orang itu.
Karna
tanpa adanya orang itu yang menyakitiku, aku tak akan bertemu dengannya.
Aku
tidak tahu sampai kapan dia berdiri disana, menungguku untuk menatapnya.
Aku
tidak tahu, apakah saat aku menatapnya, dia tetap ada disana.
Aku
tidak tahu.
Aku
tidak mau.
Karna
aku takut untuk kehilangan sesuatu yang berarti bagiku,
Lagi.
Pipiku
seperti ditampar. Seolah-olah aku harus menyadari sesuatu.
Bahwa
dia tetap disana.
Menungguku
dengan senyumannya.
Dan
aku benar-benar sadar.
Mataku
dibuat terbuka.
Untuk
melihat disekelilingku.
Bahwa
saat aku terfokuskan pada sesuatu didepanku yang tidak pernah melihatku sama
sekali,
Dia
ada dibelakang.
Memperhatikanku
yang sedang lelah dengan tangannya yang terbuka.
Apakah
aku terpaksa melihatnya saat aku dicampakkan? Kau pikir begitu?
Tidak.
Justru
ini pelajaran untukku.
Untuk
menggenggam dan tidak menyia-nyiakan apa yang ada untukku.
Untuk
menyayangiku, bukan menyakitiku.
Untuk
mengembangkan senyum di wajahku, bukan memusnahkannya.
Bukan
berjalan sendiri dibelakangku
Tetapi
berjalan kedepan bersamaku
Sambil
kugenggam tangannya disampingku,
Aku
tidak akan melepaskannya.