Minggu, 04 Mei 2014

The Hidden Rainbow


Ini cerita tentang seorang lelaki.
Lelaki yang masih sanggup berdiri saat aku berusaha melumpuhkannya.
Lelaki yang masih sanggup menatapku saat aku berusaha membutakannya.
Lelaki yang masih sanggup tersenyum saat aku berusaha memakinya.
Lelaki yang terus menunggu, walau aku tidak datang.

Kini aku memikirkan lelaki itu. lelaki yang kini selalu ada didalam genggamanku.
Dia selalu berusaha membantu, menjaga dan mengembangkan senyumku.
Senyumnya adalah senyumku.

Kini aku tahu betapa berharganya dia.
Kenapa baru sekarang aku melihat kearahnya?
Karna ada orang lain?
Tidak. Aku tidak bisa menyalahkan orang itu.
Karna tanpa adanya orang itu yang menyakitiku, aku tak akan bertemu dengannya.
Aku tidak tahu sampai kapan dia berdiri disana, menungguku untuk menatapnya.
Aku tidak tahu, apakah saat aku menatapnya, dia tetap ada disana.
Aku tidak tahu.
Aku tidak mau.
Karna aku takut untuk kehilangan sesuatu yang berarti bagiku,
Lagi.

Pipiku seperti ditampar. Seolah-olah aku harus menyadari sesuatu.
Bahwa dia tetap disana.
Menungguku dengan senyumannya.
Dan aku benar-benar sadar.
Mataku dibuat terbuka.
Untuk melihat disekelilingku.
Bahwa saat aku terfokuskan pada sesuatu didepanku yang tidak pernah melihatku sama sekali,
Dia ada dibelakang.
Memperhatikanku yang sedang lelah dengan tangannya yang terbuka.

Apakah aku terpaksa melihatnya saat aku dicampakkan? Kau pikir begitu?
Tidak.
Justru ini pelajaran untukku.
Untuk menggenggam dan tidak menyia-nyiakan apa yang ada untukku.
Untuk menyayangiku, bukan menyakitiku.
Untuk mengembangkan senyum di wajahku, bukan memusnahkannya.
Bukan berjalan sendiri dibelakangku
Tetapi berjalan kedepan bersamaku
Sambil kugenggam tangannya disampingku,
Aku tidak akan melepaskannya. 

Sabtu, 01 Februari 2014

After Rain- an Angel Without Wings


Aku berusaha menggapai Sayap yang selalu terbang dengan riang.
Keriangannya yang terkadang membuatnya lupa pada Sang Pemilik. 
Sayap yang terbang dengan riang menuju langit cerah yang dipenuhi Sang Pelangi indah.
Dia begitu bahagia.
Bahagia dan melupakanku sehingga aku tak sanggup terbang tanpanya.
Aku menatapnya dari bawah. Menyaksikannya bahagia tanpaku.
Aku kehilangan Sayap yang dulu selalu berada dalam ragaku dengan erat.
Aku berteriak dalam hati. Percuma.
Aku berteriak kencang pun, percuma. Karena dia sangat senang dengan Pelangi indah yang ditemuinya.
Langit yang mendung telah membawa Sang Sayap kembali padaku.
Aku yang kesepian menerimanya kembali dalam ragaku.
Sang Sayap melakukan perjanjian yang selalu ku ingat. Akan terus kuingat.
Dia akan terus bersamaku. Menikmati langit cerah bersamaku. Terbang bersamaku. Raga kami tak akan terpisahkan lagi. Walau ada Pelangi yang sangat indah sekalipun. Dia tidak akan meninggalkanku, meski dia memiliki seribu Pelangi.
Pikirku. Yang terpenting adalah, Sang Sayap selalu ada bersamaku.
Keriangan itu muncul lagi.
Keriangan yang tidak membawaku bersamanya.
Keriangan yang hanya ada padanya.
Aku salah. Bukan terkadang.
Ini sudah terlalu sering.
Aku hanya bisa meraung-raung dibawah sini. Tidak berani menyaksikan Sang Sayap dan Pelangi indah.
Aku tidak akan terbang.
Aku tidak akan bisa terbang lagi. Meski langit cerah.
Aku tidak akan menunggunya kembali. Meski langit mendung.
Dia telah membawa pergi janjinya, demi yang terlalu indah.
Karna aku bukan apa-apa.
Aku hanya Pemilik Sayap yang tidak bisa memperhatikan Sang Sayap.
Tidak menjaganya dengan baik dalam genggamanku.
Menghalanginya terbang untuk dirinya sendiri.
Hingga dia sanggup meninggalkanku.
Aku tidak akan menghalanginya lagi.
Biarlah dia terbang bebas.
Biarlah dia menemui Sang Pelangi indah.
Biarlah dia bahagia bersamanya
Dan tanpaku.

Selasa, 28 Januari 2014

Our Season, Dance in The Rain


Aku sangat menikmati setiap detik saat bersamanya. Bahkan saat hujan rintik-rintik seperti ini. Setiap tempat dan jalan yang kutempuh, selalu muncul ingatan tentangnya. Banyangan yang tidak pernah hilang dari ingatanku. Akupun ingat, bagaimana dia tersenyum saat bersamaku.
      Aku pernah menunggunya di tempat ini. Tempat yang sangat teduh. Tanpa kusadari aku menengok kebelakang dan aku menemukannya saat akan mengagetkanku. Lucu sekali. Rencananya gagal. Kini, aku hanya melewati tempat ini saja. Tidak menunggu atau ditunggu.
      Aku ingat jalan ini. Kami sering melewati jalan ini. Saat aku melewati jalan ini dengannya, dia berjalan memimpinku. Aku hanya bisa melihat punggungnya yang menjulang tinggi. Tiba-tiba dia berbalik dan menunjuk sesuatu tepat didekat sepatuku. Seekor hewan melata yang sama sekali tidak ingin kulihat seumur hidup. Tanpa sadar aku melompat dan tepat saat itu dia berteriak dan aku mendengar klakson motor tepat didekatku. Ya. Berbahaya sekali hewan melata itu. lucu sekali. Saat ini, aku hanya bisa tersenyum melihat setiap langkahku yang tidak menemukan hewan itu.
      Payung yang saat ini kupakai, berbeda dari yang kupinjamkan padanya saat hujan. Seperti ini. Dan di jalan ini. Lalu dia menyanyikan lagu anak-anak saat dia melihat banyak bintang-bintang dipayung yang dia pakai. Aku tertawa melihat tingkahnya. Saat ini, payung itu terlipat rapi di kamarku.
      Kini aku hanya berjalan sendiri di jalan ini. Sepanjang jalan yang aku lewati, hanya mengingatkan aku padanya. Musim yang selalu kuingat. Tepat saat kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
      Tuhan. Aku tidak bisa mengusir bayang senyumnya dari pikiranku. Aku memang sangat menyukai senyumnya, yang selalu membuatku senang membayangkannya. Tapi, kini itu hanya dapat menyakitiku. Karna dia tidak lagi memberikan senyuman itu padaku.
      Tuhan. Aku tidak ingin menatapnya. Aku harus mengusir bayangannya. Tapi dia selalu melintas saat aku sedang menatap langit.
      Hujan yang membasahi payungku, seperti air mata yang membasahi pipiku.
      Setiap detik yang sangat kunikmati saat bersamanya, hanya meninggalkan bekas bayangannya. Tapi aku menuangkannya dengan tinta diatas kertas. Dan sulit untuk kuhapus.
      Aku hanya ingin meminta hujan. Meneteskannya tepat di kertas itu hingga sang tinta memudar.
      Aku ingin berjalan tanpa ganjalan.
Aku ingin tersenyum tanpa paksaan.
      Dan menatapnya tanpa beban.